fbpx
Sunday, June 26, 2022

If you visit our website outside our country, please use the translate button in the top menu

Mencermati Pendidikan Anak Usia Dini, “Play Group yang semakin menjamur”.

Oleh : Tri Subekti, M.Psi, Psi**

Advertisements

(**Penulis adalah Psikolog Klinis pada salah satu Puskesmas di Kabupaten Sleman Yogyakarta, dengan minat khusus pada permasalahan depresi dan modifikasi perilaku.

Mencermati Pendidikan Anak Usia Dini, “Play Group yang semakin menjamur”.
Mencermati Pendidikan Anak Usia Dini, “Play Group yang semakin menjamur”. 2

Harapan setiap manusia yang sudah menikah adalah diberi momongan oleh Yang Maha Kuasa. Ada beberapa diantaranya yang dengan mudah mendapatkan momongan ada pula yang kesulitan, bahkan sudah bertahun-tahun tak juga diberi momongan. Kadang mengundang rasa prihatin, ketika melihat kenyataan adanya pasangan suami istri yang baru diberi momongan setelah 5 tahun menikah.

Selama itu mereka berusaha keras menyukseskan program “pembuatan” anak. Sementara mereka yang pacaran kebablasan, baru 1 bulan kebablasan sudah langsung diberi momongan. Yang jadi masalahnya adalah ketika buah hati mereka (dan buah hati kita) mulai memasuki usia sekolah. Pusinglah para orangtua memikirkan rencana pendidikan buah hatinya.

Saat ini, banyak sekali ditawarkan program pendidikan Anak Usia Dini dengan alasan merangsang kecerdasan anak seawal mungkin. Mulai dari yang paling mahal dengan fasilitas super lengkap hingga yang terjangkau bahkan sangat murah dengan fasilitas ala kadarnya.

Advertisements

Pendidikan Anak Usia Dini memang bagus untuk merangsang kecerdasan anak seawal mungkin. Bukan hanya kecerdasan kognitif tapi juga kecerdasan sosial (karena anak juga diajari bagaimana berteman/ bersosialisasi), kecerdasan seni, kecerdasan spiritual, dll. Meskipun demikian program pendidikan anak usia dini sebetulnya mengancam kita (para orangtua batita-balita) sebagai “monster pendidikan” jika kita tak cermat mempelajari programnya.

Maksudnya adalah, meskipun manfaatnya baik tetapi Program Pendidikan Anak Usia Dini pada beberapa lembaga seringkali hanya mengedepankan sisi komersial, karena lebih mengutamakan “tuntutan pasar” daripada manfaat sebenarnya dari suatu program yang ditawarkan. Ini bukan berarti saya menuduh suatu lembaga lho. Hal yang paling menonjol pada lembaga penyelenggara PAUD yang mengedepankan sisi komersial adalah adanya program yang mengada-ada atau terlalu muluk.

See also  Ternyata ini Tips Si Kecil Agar Pandai Menggenggam Botol Susu Sendiri Dengan Cepat!

Kalau kita amati, saat ini banyak bermunculan Play Group – Play group yang mengadopsi kurikulum luar negeri tanpa memperhatikan kesesuaian dengan budaya dan keIndonesiaan kita. Kita hidup di Indonesia, berinteraksi dengan rakyat Indonesia, ya sudah semestinya kita berperilaku secara Indonesia. Bukan berarti kurikulum luar negeri itu tidak sesuai, hanya saja perlu diadaptasi lebih lanjut.

Dalam psikologi, bila ada alat-alat tes pengukur kepribadian dari luar negeri yang ingin dipakai di Indonesia, para ilmuwan psikologi harus melakukan adaptasi alat tes terlebih dahulu. Dengan adaptasi ini akan diketahui apakah alat tes tersebut dapat dipahami dan sesuai di Indonesia. Riset seperti ini sangat mahal, sehingga tak heran jika biaya konsultasi psikologi juga mahal.

Selain di Taman Kanak-kanak (TK) / Play Group (PG) , sebetulnya PAUD juga bisa dilakukan di rumah. Beberapa permainan dan kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah (TK/PG) bisa juga dilakukan oleh orangtua asalkan ada kemauan. Namun karena saat ini semakin banyak kedua orangtua yang bekerja sehingga tak lagi punya waktu luang yang memadai, maka TK /PG pun laris manis.

Advertisements

Memang tak dapat dipungkiri ada beberapa yang tak dapat dilakukan di rumah (oleh keluarga kalangan ekonomi tertentu) misalnya pengenalan komputer. Walaupun sebenarnya pengenalan komputer bisa juga dilakukan pada usia yang lebih besar, misalnya saat anak sudah SD.

Banyak sekali permainan edukatif yang terjangkau yang dapat dilakukan di rumah. Misalnya mengajari anak mengenal dan mencampur warna. Daripada membeli komputer dan software permainan mencampur warna, anda dapat mengajak anak bermain dengan botol bekas peralatan kosmetik Anda (tentunya dicuci dulu) dan sisa pewarna makanan di dapur Anda.

See also  7 Tips Berbicara Dengan Anak Bunda, Cara yang Benar!

Atau bila rumah Anda dekat sawah, bisa juga mengajak anak bermain lempung/ tanah liat untuk memberikan kegiatan “merangsang fungsi motorik halus”, dan “pengenalan bentuk”, tapi setelah itu jangan lupa membersihkan dan memandikan anak, bila tidak anak bisa-bisa terkena cacingan.

Nah, anda jadi menghemat anggaran kan? Beli komputernya nanti saja bisa ditunda sampai anak masuk SD, terutama bila saat ini Anda sedang menyelesaikan masalah keuangan lain. Ya wajar lah, keluarga muda biasanya banyak pengeluaran. Misalnya pengeluaran cicilan rumah atau kendaraan. Untuk permainan yang lain Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog pendidikan anak bila ingin mengetahui lebih banyak.Melalui tulisan ini saya sama sekali tidak bermaksud membuat lembaga/play group tertentu jadi tidak laku. Hanya saja, sebagai orangtua yang bijaksana dan peduli pada pendidikan anak-anaknya kita memang perlu lebih cermat memilih sekolah

Advertisements
spot_img

Reviews

Related Articles